Tegar Surya Pratama, Siswa Aktivis Seni Reog Ponorogo: Sekolah Jalan, Budaya Kulestarikan

By: Berita | Posted on: August 31, 2020


Untuk orang Jawa Timur, kesenian tradisional Reog Ponorogo tidak asing lagi tentunya. Tidak demikian masyarakat tahu tentang cerita dan juga makna dari pertunjukan seni tradisional Reog Ponorogo. Banyak sekali nilai-nilai budaya yang terdapat pada seni tradisional Reog Ponorogo. Menurut Tegar Surya Pratama anak kelahiran Malang, 10 Agustus 2003, salah satu anggota komunitas Reog Ponorogo ‘Pemuda Penggiat Seni Reog Ponorogo’ Kota Malang.
“Komunitas saya ini berdiri sejak tahun lalu tepatnya 2019, saya mengikuti komuntas Reog Ponorogo ini selain suka juga untuk melestarikan kebudayaan tradisional,” kata Tegar. Banyaknya komunitas Reog Ponorogo lainya di daerah Malang hanya komunitas ini yang bertujuan untuk membuat para pecinta seni Reog Ponorogo bersatu.
“Alhamdulillah tujuan kita membuat komunitas PPSRP ini tercapai dan diterima baik oleh masyarakat lainnya,” kata laki-laki bertubuh mungil ini. Komunitas ini bukan hanya untuk sekedar berseni dan bersenang –senang tapi komunitas ini juga memiliki tujuan lain “Saya serta anggota yang lainya juga sering mengadakan acara bakti sosial seperti penggalangan dana untuk fakir miskin setiap bulan,” ucap pemain slompret ini.
Berbagai persiapan dilakukan oleh Tegar, apalagi Tegar seorang pelajar di salah satu sekolah menegah. “Saya menghadiri pementasan hanya saat libur sekolah, jadi saya bisa membagi waktu untuk belajar,” ucap anggota PPRSP. Berbagai kalangan yang menjadi anggota PPRSP mulai dari kalngan pelajar, pemuda, bapak-bapak, hingga sesepuh. Anggota PPRSP mencapai 100 orang.
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari seni tradisional Reog Ponorogo ini. “Di sini kita dapat belajar banyak hal selain tentang nilai budaya Reog Ponorogo, melainkan juga belajar tentang tarian, musik gamelan, dan lain-lain,” ucapnya.
Di sela-sela kesibukanya sebagai pelajar, Tegar tetap mengikuti latihan komunitas Reog Ponorogo. “Meskipun saya seorang pemain Reog Ponorogo tetapi saya tidak boleh lupatentang kewajiban belajar,” kata seorang pelajar ini.
Selain latihan juga ia juga sering bersama komunitasnya membuat Reog Ponorogo. Saat tampil biasanya ia menjadi pemain slompret dan ganongan. Komunitas PPRSP ini juga menampilkan dua jenis reog yaitu Reog Obyok dan Reog Garapan.
Saat pandemi seperti ini banyak kerugian yang tercapai mulai berkurangnya pendapatan berkurangnya orderan untuk pentas. “Rindu guyub rukun dan cadaan saat latihan,” menurut Tegar. Padahal, biasanya saat hari biasa banyak sekali orderan tampil dan berbagai acara yang diikuti.
Tegar mengakui bahwa komunitas ini banyak menimbulkan dampak positif, selain berkarya kita juga dapat mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian Reog Ponorogo.

Penulis: Ralita Nur Sasi, siswa kelas XI TKJ C SMK Negeri 8 Malang