Cerita Habibah, Penulis Muda Asal Desa Berkarya untuk Bangsa

By: Berita | Posted on: August 31, 2020


Besarnya rasa semangat dan nasionalisme yang tumbuh di dalam diri Habibah Pidi Rohmatu membuatnya tak pernah putus asa untuk selalu menggapai mimpi dan cita-cita. Dia selalu melakukan kewajibannya dengan tulus dan ikhlas. Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di desa, tak memupuskan semangat belajar Habibah untuk menjadi wanita sarjana dan menjadi penulis buku.
Sejak tahun 2015, Habibah duduk di bangku perkuliahan. Dengan bermodalkan semangat dan tekad yang kuat. Dia merantau ke Kota Malang untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Di sela-sela kuliahnya, ia mengisi waktu senggangnya untuk menulis syair-syair motivasi. Puncaknya, pada Januari 2018, ia berhasil menerbitkan satu buku karyanya yang berjudul ‘Luka Mendewasakanmu’ dan diterbitkan oleh Belibis Pustaka Group.

“Aku berhasrat menapakinya denganmu
Jika nanti rencana hati tak sejalan dengan rencana Tuhan
Aku tidak akan pernah menyebutmu kegagalan
Karena datang dan perginya cinta
Sudah jelas Tuhan pula yang berencana.” Sepenggal syair dari buku karya Habibah

Kurang dari setahun, pada September 2018 lalu, ia telah berhasil menerbitkan buku ke-2 karyanya bersama temannya yang berjudul ‘Panduan Membunuh Waktu’ yang juga diterbitkan oleh Belibis Pustaka Group.
“Istirahatlah dirimu dari ikut mengatur. Kenapa kau bekerja seolah-olah seperti Tuhan? Membunuh waktu untuk menumpuk kejayaan masa depan, itu bukan bagianmu,” Buku yang diantarkan oleh seorang Hanum Salsabila Rais, diciptakan oleh perempuan-perempuan hebat.
Setelah menerbitkan 2 buku karyanya, di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa dan seorang penulis. Habibah juga mempunyai keinginan untuk bisa berkomunikasi dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). “Sebenernya kalo motivasi dari diri sendiri. Pengen aja gitu komunikasi sama teman-teman tuli terus seru juga cover-cover lagu dengan bahasa isyarat” ujar perempuan kelahiran Lamongan, 25 Januari 1995 tersebut. Tanpa mengikuti kursus bahasa isyarat, Habibah mampu berkomunikasi dengan teman-teman tuli dengan fasih dan lancar. “Belajarnya otodidak aja sih. Kalo komunitas ga gabung, cuma belajar aja sama mereka,” ucapnya.
Selain berkeinginan bisa berkomunikasi dengan teman teman berkebutuhan khusus, ia juga suka berkunjung ke desa-desa untuk bermain dan belajar bersama anak-anak desa. “Iya, suka ke desa karena aku juga asli orang desa. Kalo di desa aku ga bagi ilmu, justru aku belajar banyak ke mereka” lontar Bibah.
Di desa banyak pembelajaran yang dapat diambil oleh Habibah. Ia sering kali membagikan cerita dan pengalamannya melalui sosial media miliknya. Beberapa cerita yang ia bagikan di sosial media berisi kondisi sekolah dan pendidikan di desa.
“Waktu ikut kamisan di Salam, aku mendengar banyak ceirta. Salah satu yang menarik adalah ketika Bu Wahya bercerita tentang Pak Menteri Pendidikan saat mendatangi workshop, menyebut nama Salam sebagai komunal percontohan. Beberapa praktisi pendidikan di Jateng dan Jatim, misalnya. Setelah mendengar pidato Mendikbud, mereka bergegas ingin berkunjung ke Salam.
Salam memang banyak dikunjungi masyarakat. Setelah mendengar bagaimana Salam memperkenalkan metode pendidikan yang cukup berbeda. Tapi hati-hati terjebak. Ada pengunjung yang merasa kecewa atau underestimate. Bagaimana tidak? Sekolah yang jalan masuknya lewat saluran irigasi, lapangan becek setelah hujan, bangunan kecil, dan nyaris tanpa kemapanan. Awal mulanya, seperti ragu-ragu. Katanya metode belajarnya bagus tapi kok kondisinya nampak meragukan? Setelah aku mendengar Bu Butet berkata “kamu tidak akan menemukan konteks hanya dengan melihat di depan dan berhenti, tanpa live-in,” tulis Habibah di beranda media sosial miliknya.
Dari situlah, yang dilupakan dari pendidikan merdeka, adalah tentang akses kelas. “Orang lupa bahwa dr. Maria Montessori membuat metode belajar merdeka untuk anak-anak kaum buruh yang justru sekarang menjadi pasar bagi kaum urban. Metode belajar sudah banyak yang menarik tapi orang lupa bahwa akses kelas menentukan bagaimana mereka bisa mendapatkannya,” lanjut tulisannya sebagaimana dikutip penulis.
Dengan kesibukannya saat ini, Bibah tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai mahasiswa. Dan dia berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai S-2 dan sudah bergelar magister pendidikan.
Mengakhiri ceritanya, sebagai anak yang lahir di desa dan dibesarkan menjadi gadis desa. Habibah mampu membuktikan bahwa ia bisa menjadi anak yang dibanggakan kedua orang tua dan berguna bagi orang yang berada disekitarnya. Dia juga berhasil untuk mewujudkan keinginannya satu persatu dan ia juga berhasil menempuh pendidikan hingga sarjana. Oleh karena itu jangan pernah putus asa atau bermalas malasan belajar. Lihatlah diluaran sana masih banyak orang yang kekurangan bahkan belajar di tempat yang bisa dibilang kurang layak tetapi mereka semua masih semangat untuk menuntut ilmu dan belajar.

Penulis: Gizka Dinda Aprilia, siswi kelas X RPL A SMK Negeri 8 Malang