Ragam Problematika Pembelajaran Daring: Ini Kata Siswa dan Orang Tua

By: Berita | Posted on: August 31, 2020


Pandemi Covid-19 yang mulai mewabah di pertengahan Maret 2020, membuat semua serba terbatas. Mulai dari bekerja, sekolah, maupun aktivitas sehari-hari yang harus dilakukan di rumah. Pandemi ini sangat berpengaruh besar pada dunia pendidikan karena siswa diharuskan untuk belajar mengajar dari rumah sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. Dalam pembelajaran tersebut, muncul masalah baru. Di antaranya orang tua yang bekerja di rumah, tak pelak harus membagi waktu dalam mendampingi anaknya belajar. “Saya bingung harus membagi waktu pekerjaan saya dengan menemani anak saya sekolah, karena waktunya bersamaan, alhasil saya memantau anak saya sekolah dari rumah lewat gadget ketika saya bekerja,” tutur Hesti, salah satu orang tua siswa SD Islam Sabilillah Malang.
Lain halnya dengan Sri. Orang tua yang siswanya bersekolah di SMK Negeri 8 Malang ini memiliki kendala kuota. “Kenapa dari sekolah tidak mendapatkan bantuan kuota, hanya beberapa sekolah yang memberikan kuota gratis untuk siswanya, apakah itu adil, kenapa pembagian itu tidak merata, karena di situasi seperti ini semua membutuhkan tidak pandang bulu, belum lagi membayar SPP sekolah,” keluh Sri. Hal itu dalam dimaklumi karena kebijakan yang belum merata dan berbeda kewenangan dalam pengelolaan SMA/K dengan SMP dan SD sederajat. Selain itu, juga tidak semua rumah siswa memasang Wi-Fi, sebagian siswa menggunakan kuota internet yang dibeli menggunakan uang saku mingguannya.
Cerita menarik juga datang dari Agus, salah satu siswa SMK. Ia terpaksa bekerja agar dapat membeli paketan data. “Saya bekerja untuk membeli kuota dan untuk kebutuhan saya sekolah” katanya. Agus berpendapat banyak siswa mempunyai smartphone yang canggih-canggih di era modern seperti ini, namun masih ada juga siswa yang tidak mempunyai barang mewah tersebut karena faktor ekonomi keluarganya. Sedangkan, laptop, lanjut Agus, tidak semua mata pelajaran menggunakan laptop, hanya beberapa yang sifatnya praktik. Namun itu semua bukan alasannya dan teman-teman seusianya untuk patah semangat.
“Meskipun saya tidak mempunyai laptop namun saya akan tetap berusaha mengerjakan tugas semampu saya, meskipun saya harus meminjam atau bergabung laptop dengan teman saya,” kata Putri, siswa lainnya.
Namun, terlepas dari itu semua, kita tidak bsia menampik bahwa banyak sekali keuntungan yang bisa didapat jika mereka menggunakan waktu dengan baik, karena siswa dapat menggunakan waktu luang untuk belajar selain mata pelajaran sekolah.
Jika di sekolah mereka belajar mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00 saat daring mereka hanya belajar separuh waktu. Di sekolah juga mereka belajar terikat oleh jam sedangkan saat belajar daring mereka bisa mengasah kemampuan di luar mata pelajaran sekolah pada saat waktu-waktu luang karena pastinya saat daring waktu luang mereka sangatlah banyak. Model belajar sekarang tidak harus duduk dan mendengarkan guru menejelaskan atau menerangkan pelajaran, namun guru maupun siswa dapat mengekspresikan dan menuangkan ide ide kreatif baru dalam proses belajar mengajar. “Guru TK anak saya berinovasi membagi kelompok pada setiap kelas dengan jumlah maksimal 5 anak untuk di ajar di salah satu rumah anak tersebut, agar mereka masih bisa berinteraksi dengan teman dan gurunya secara langsung,” papar Kholifah, salah satu orang tua yang rumahnya bertepatan mendapat giliran untuk tempat belajar.
Tak hanya siswa, guru pun bisa mempunyai waktu luang yang lebih untuk membuat ide-ide kreatif dalam mengajar agar tidak membuat siswa bosan dan lebih memahami pembelajaran.
“Di sela-sela waktu belajar daring saya mengisinya dengan setoran ayat Al-Qur’an dan bulu tangkis bila sore hari, itu saja saya lakukan pada saat belajar daring diberlakukan karena jika pada saat sekolah tatap muka saya pulang sore dan sudah capek, dan saya lakukan pada hari sabtu” kata Laksmi Rahayu, siswa SD Muhammadiyah 9 Malang. Ada pula yang memiliki cerita lain. “Saya bisa membantu ibu saya membersihkan rumah di saat istirahat atau pelajaran kosong, seperti menyapu, mengepel, dan mencuci piring di pagi hari yang biasanya tidak bisa saya lakukan karena harus bersekolah (sekolah tatap muka),” kata Nanda, siswa SMP Negeri 16 Malang. Namun juga tidak semua siswa menggunakan waktunya dengan baik dan stay at home, ada juga siswa yang bermalas malasan dan menunda nunda tugas, bermain di luar rumah, pergi jalan-jalan saat jam pelajaran berlangsung, karena sebagian besar siswa salah mengartikan tentang belajar daring, karena di pikiran mereka yang terlintas adalah hanya belajar di depan laptop atau HP, mendengarkan guru lewat Google Meet atau Zoom, membaca materi berupa dokumen, dan itu semua akan membuat bosan mereka pada saat belajar jika tidak ada inovasi dalam metode pembelajaran.
“Di sekolah anak saya mulai awal sekolah daring hingga sekarang tidak pernah melakukan Zoom atau Google Meet, hanya materi dan tugas saja” papar Ibu Heidy Sundari, salah satu orang tua siswa SD Muhammadiyah 9 Malang. Tidak semua sekolah melakukan atau menerapkan kebijakan yang sama, maka dari itu perlu diperhatikan lagi agar tidak tercipta kecembuaran antar sekolah. Pemerintah juga harus memperhatikan nasib anak di pelosok-pelosok desa yang tidak terjangkau sinyal.
Teriring doa dari mereka agar pandemi Covid-19 ini segera selesai. “Semoga pandemi ini segera berakhir dan kembali melakukan sekolah tatap muka,” harap Sri. Tetap jaga kesehatan dan stay at home teman-teman!

Penulis: Auramarsanda Winadi Putri, siswi kelas XI RPL C SMK Negeri 8 Malang